jpnn.com, JAKARTA – Industri film pendek tanah air kembali bergairah dengan hadirnya IMAC Film Festival 2026 yang digelar oleh Komunitas Suka Sinema bekerja sama dengan Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB).
Memasuki tahun kejpnn penyelenggaraannya, festival ini mencatatkan sejarah baru dengan bertransformasi menjadi ajang berskala internasional.
“Tercatat sebanyak 212 karya dari kategori pelajar dan umum telah masuk dalam meja panitia sepanjang periode submisi awal tahun ini,” kata Ketua Pelaksana IMAC 2026, Sri Bandoro di Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (16/4).
Dia menyebutkan, dukungan penuh dari Kementerian Ekonomi Kreatif / Badan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memperkuat posisi festival ini di peta perfilman nasional. Menariknya, jangkauan peserta tahun ini meluas hingga ke mancanegara.
Sebanyak 18 negara berpartisipasi mengirimkan karyanya, mulai dari India, Brasil, Malaysia, hingga Italia, Rumania, dan Mesir. Dari ratusan karya tersebut, tim kurator telah menyaring 40 film terpilih yang masuk dalam jajaran IMAC Official Selection yang terbagi dalam empat kategori utama, yaitu National Student Category, Best National Film, Documentary, dan Best IMAC Film Category.
Dia menambahkan, pencapaian tahun ini merupakan tonggak sejarah atau milestone yang sangat istimewa. Menurutnya, antusiasme tidak hanya datang dari sineas lokal, tetapi juga dari komunitas global. “Keterlibatan juri internasional pun dilakukan untuk menjamin proses kurasi yang lebih komprehensif dan kompetitif,” ucap Bandoro.
Pihaknya juga mengapresiasi kolaborasi dengan ILUNI UI FIB yang membantu memperluas skala acara hingga dilaksanakan di dua lokasi ikonik secara bersamaan.
Senada itu, Ketua ILUNI UI FIB, Visna Vulovik, menyatakan dukungannya terhadap IMAC 2026 sebagai bagian dari semangat “merayakan budaya”. Ia percaya bahwa film pendek adalah medium yang sangat efektif untuk menyampaikan nilai identitas budaya kepada generasi muda.
“Kami melihat potensi besar bagi para alumni dan sineas muda untuk terus meninggalkan jejak di tengah pesatnya perkembangan industri film lokal yang kini mampu menjangkau jutaan penonton,” ungkapnya. Dengan mengangkat tema besar “Resilience”, festival ini ingin menonjolkan pesan tentang kemampuan bertahan dan beradaptasi di tengah berbagai tantangan global.
Tema ini tercermin kuat dalam karya fiksi maupun dokumenter yang akan ditayangkan selama festival berlangsung mulai 16 hingga 18 April 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan FIB UI Depok. Seluruh film terpilih akan diputar dalam rangkaian program kurasi yang juga dilengkapi dengan sesi diskusi dan showcase menarik.
Tak hanya sekadar pemutaran film, pengunjung juga disuguhi berbagai kegiatan edukatif seperti masterclass bersama Wahana Edukasi dan Sony Indonesia. Ada pula talkshow bertajuk “Dari Buku ke Bioskop” yang mengupas proses adaptasi novel Na Willa ke layar lebar.
Seluruh rangkaian perayaan kreativitas ini akan mencapai puncaknya pada Awarding Day yang digelar pada 19 April 2026 di Ruang Pemutaran Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, untuk memberikan penghargaan bagi karya-karya terbaik tahun ini. (esy/jpnn)